Siaran Pers

Webinar : Bincang Asyik Bersama Dahlan Iskan

21 April 2021 | 15:22 WIB

Jakarta: Sosok wartawan seperti Dahlan Iskan sudah sulit ditemui di zaman sekarang. Punya idealisme, independen, apa adanya, pekerja keras, bertanggung jawab dan memegang kode etik profesi sebagai wartawan. Sementara wartawan 3 zaman tersebut menilai dalam kondisi sekarang ini, pekerjaan sebagai youtuber dan host podcast lebih banyak dipilih oleh kalangan milenial dan masyarakat.

Di tengah gejolak pertumbuhan media, ia memiliki spirit dan upaya yang besar untuk mengembalikan esensi dasar dari sifat dan karakteristrik jurnalisme. Dahlan terus bersemangat untuk mengenalkan jurnalisme yang baik dan jujur kepada milenial, menuangkannya ke dalam bentuk tulisan-tulisan dan juga podcast-nya lewat harian DI’s Way – Catatan Harian Dahlan Iskan. 

“Ya saya begini orangnya. Apa adanya saja yang saya sampaikan. Tentu saja kejujuran dan idealisme yang saya pegang, juga mempertimbangkan banyak faktor demi kebaikan semua pihak. Saya sedih lihat sekarang seperti terlalu ‘receh’ dunia jurnalistik ini, menulis atau memberitakan tanda adanya analisa. Saya ingin sekali, anak-anak muda sekarang menjadi milenial yang kritis, jujur dan bertanggung jawab dalam bermedia,” tuturnya.

Dahlan dalam membuka pemaparan materinya menyampaikan bahwa: “Wartawan itu profesi, bukan disebut pekerjaan, karena memiliki otonomi untuk melakukan atau tidak melakukan, menulis atau tidak menulis. Karena otonomi itu lah, makanya wartawan terkadang cenderung arogan, sehingga untuk mengontrolnya yaitu dengan kode etik. Saat ini, di zaman sekarang, dunia jurnalistik perlu dikembalikan lagi tanggung jawab dan profesionalismenya,” ujar Dahlan.

Peran Penting Public Relations


“Youtube dan podcast adalah saluran yang kemungkinan besar akan terus hidup di zaman sekarang sampai masa depan. Maka dari itu, untuk menjadi youtuber atau host podcast yang menarik adalah mereka yang memiliki karakter dan kepribadian serta skill tertentu yang tentu saja membawa hal positif kepada masyarakat,”ungkap Dahlan.

FIFGROUP, salah satu anak perusahaan PT Astra International Tbk dan merupakan bagian dari Astra Financial, menyadari betapa pentingnya skill dan knowledge tentang public relations (PR) dan media dalam fungsinya menjaga citra dan reputasi yang positif perusahaan di mata publik.

Dengan luasnya network FIFGROUP yang mencapai 242 cabang dan 385 point of service (POS), sudah tentu hal diatas menjadi tugas dan peran dari Kepala Cabang sebagai person in charge (PIC) PR di cabangnya masing-masing dan juga PIC PR Kantor Pusat, sebagai representasi atau perpanjangan tangan FIFGROUP. 

Hal ini akhirnya membawa FIFGROUP, melalui Corporate Communication Department, membuat program yang memiliki tujuan untuk meningkatkan skill dan knowledge terkait PR dan media relations kepada para PIC PR Kantor Pusat dan Cabang, yaitu Webinar : FIFGROUP Corporate Communication 2021 yang akan diselenggarakan sebanyak 2 kali, dengan menghadirkan pembicara yang ahli di bidangnya masing-masing. 

Hadir sebagai pembicara, Prof. Dr. (H.C) Dahlan Iskan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2011-2014, di rangkaian webinar pertama bertajuk “Bincang Asyik dengan Dahlan Iskan” yang menjelaskan bagaimana perkembangan dan opportunity serta tantangan dalam dinamika perbedaan zaman dulu dan zaman sekarang, seperti salah satu contohnya bagaimana media saat ini didominasi media sosial.

Profil Dahlan Iskan


Pria kelahiran Magetan, Jawa Timur tanggal 17 Agustus 1951 ini menempuh pendidikan sekolah dasar di SDN Desa Bukur, Jiwan, Madiun. Lalu, ia pun melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Pesantren Saibul Muttaqin dan Madrasah Aliyaj Pesantren Sabibul Muttaqin di Magetan. Dahlan sempat kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Cabang, Samarinda meski tidak tamat.

Ia memulai karirnya dengan menjadi reporter di Mimbar Masyarakat, surat harian kabar kecil di Samarinda, Kalimantan Timur. Ia menekuninya sampai tahun 1975. Satu tahun kemudian, pada tahun 1976 ia beralih profesi menjadi seorang wartawan majalah Tempo. Pada tahun 1982, saat ia sedang menjabat Kepala Biro Tempo di Surabaya, dipercaya memimpin sebagai pimpinan surat kabar Jawa pos.

Kemudian pada tahun 1997, ia mendirikan gedung Graha Pena di Surabaya dan Jakarta. Lalu, pada tahun 2002 ia mendirikan TV Lokal bernama JTV di Surabaya, lalu dilanjutkan dengan Batam TV di Batam serta Riau TV di Riau.
Selang dua tahun kemudian, putra dari pasangan suami-istri Mohammad Iskan dan Lisnah ini menduduki kursi komisaris PT. Fangbian Iskan Corporindo (FIC) yang membuat Sambungan Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang menghubungkan Surabaya dan Hong Kong dengan panjang serat optik 4.300 kilometer. Lalu, di tahun yang sama pula ia dipercayakan untuk memimpin PLN sebagai Direktur Utama menggantikan Fahmi Mochtar.

Sepak terjang Dahlan, yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat soal listrik tentunya sangat dihargai oleh pemerintah. Pada 17 Oktober 2011, ia pun dipilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sharing Knowledge with Dahlan Iskan


Webinar FIFGROUP 1.0 ini dibuka dengan speech dari Esther Sri Harjati Human Capital (HC), General Support (GS), and Corporate Communication Director melalui sarana virtual. Esther mengatakan bahwa sebagai PIC PR, harus tanggap dan agile dengan perubahan yang ada dengan meningkatkan pengetahuan, saling berbagi pengalaman dan mau mendengarkan masukan serta pengalaman berharga.

Tambah Esther : “Sebagai PIC PR tentunya kita juga ingin mendengarkan bagaimana pandangan Pak Dahlan sebagai wartawan 3 zaman tentang hubungan media dan perusahaan. Sehingga melalui sesi webinar Bincang Asik ini, kita semua mendapatkan ilmu, manfaat dan dapat menerapkannya dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.”

Antusias peserta webinar sangat tinggi, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang masuk saat sesi tanya jawab. Salah satunya adalah bahwa dalam membangun media relations, apa yang harus kita lakukan terlebih dahulu? Dahlan menjawab bahwa media relations untuk zaman sekarang ini secara teknis sudah tidak perlu lagi, karena setiap orang atau perusahaan atau institusi sudah memiliki medianya sendiri.

“Hal ini lebih cocok ditanyakan pada zaman lalu yang medianya masih sedikit. Di zaman sekarang, give ya give, take ya take. Namun yang perlu menjadi perhatian bersama bahwa dalam maintain hubungan dan memperlakukan media itu sama halnya dengan kita maintain hubungan dan memperlakukan manusia. Media itu sama seperti manusia. Jangan sombong dan saling menghargai. Treatment dalam media relations itu seperti halnya kita treatment kepada manusia. Apa yang tidak disukai ya jangan lakukan ke media,” jelas Dahlan.

Sosok humble ini juga menjelaskan peran public relations : ”Public relations tentu saja dibutuhkan oleh suatu perusahaan dalam menghasilkan growth dan sustainability perusahaan secara tidak langsung. Namun tentu saja PR dalam proses dan tindakan sehari-harinya tidak menghasilkan direct income seperti halnya proses marketing dan sales.”

Salah satu peserta webinar yang merupakan PIC PR Cabang FIFGROUP bertanya tentang doorstop dan Dahlan menjelaskan bahwa dari doorstop, seorang wartawan itu dapat melihat karakteristik kepribadian orang yang akan diwawancarainya. “Ada 2 tipe pejabat dan kewenangannya. Yang pertama, pejabat publik seperti Lurah atau pejabat publik lainnya, mereka tidak boleh tidak menjawab karena ada tanggung jawab untuk menjelaskan ke publik. Yang kedua, pejabat private yang memiliki undang-undang private sehingga boleh tidak menjawab.”

Banyak sekali insight yang diberikan sosok enerjik ini, termasuk bagaimana mengenali ciri-ciri jurnalistik yang baik. Dan dengan jawaban singkat tapi jelas, beliau mengatakan : “Yang bertanggung jawab dan tulus.”

Lebih dari 20 peserta dari 317 Peserta yang hadir tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk sharing dan bertanya kepada Dahlan dalam acara 2 jam tersebut. Salah satu pertanyaan tentang kode etik juga terlontar, seperti apa kode jurnalistik yang ditetapkan pemerintah dalam melakukan peliputan berita.
 
Pria berkacamata itu menekankan bahwa kode etik itu bukan undang-undang atau hal yang dibuat dari pemerintah. “Kode etik pada dasarnya datang dari pribadi masing-masing. Seperti yang sudah saya jelaskan, bahwa kode etik itu berhubungan erat dengan profesi. Dikatakan sebuah profesi jika memenuhi 3 syarat : kode etik, memiliki otonomi dalam melakukan atau tidak melakukan dan yang terakhir berhubungan dengan kepentingan umum. Jadi itu kembali ke pribadinya, mau tidak ia memegang kode etik profesinya.” 

Webinar yang berjalan santai dan seru itu ditutup dengan pesan dari Dahlan bahwa dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita harus memiliki common sense, sehingga dapat melihat dan menilai banyak hal sesuai dengan porsi dan obyektivitasnya. 

“Sebelumnya, dalam kesempatan ini, saya juga mau menyampaikan terima kasih untuk FIFGROUP, karena kehadirannya dapat membantu banyak orang untuk memiliki sepeda motor, khususnya kepada masyarakat kalangan bawah. Ini termasuk ke dalam common sense, bagaimana FIFGROUP memberikan kesempatan masyarakat untuk akhirnya bisa memiliki aset,” tutur Dahlan pada Selasa, 20 April 2021.

Ada yang bisa FIONA bantu?